Sabtu, 12 Juni 2010

Pelalawan; Dari Kerajaan Menjadi Kelurahan

Pelalawan, Kamis (10/6). Seharian penuh berada di Keluarahan Pelalawan membawa arti tersendiri bagi para aktivis River Defender. Kelurahan ini sangat berbeda dengan kelurahan-kelurahan lain pada umumnya. Sekalipun hanya sebuah kelurahan di tengah hutan, ia telah menjadi saksi sejarah budaya Melayu di Riau sejak abad ke-14. Para aktivis River Defender berkesempatan untuk menggali informasi ini dari warga setempat. Informasi yang didapatkan pun jadi semakin lengkap dengan mengunjungi beberapa lokasi cagar budaya di Pelalawan.

Setelah sebelumnya membuat janji, para aktivis bertemu dengan seorang pejabat adat setempat. Ia bernama Edi Hanafi (51 tahun) yang dalam adat setempat bergelar Penghulu Koto. Dari beliau lah para aktivis akhirnya memahami sejarah kelurahan kecil ini.

“Di kelurahan ini dulu ada kerajaan islam yang asalnya dari Malaka,” ujarnya memulai penjelasannya.

Diawali dari larinya seorang raja bersama permaisurinya dengan sebuah perahu saat Malaka diserang Portugis. Dalam pelarian panjangnya akhirnya sang raja mendarat di daerah Pekan Tua di Kuala Kampar. Mereka lalu mendirikan sebuah kerajaan yang kemudian bernama Kerajaan Kampar dan berpusat di Pekan Tua.

Setelah sang raja meninggal, ia kemudian digantikan oleh salah seorang puteranya. Di bawah kepemimpinan puteranya ini, lalu kerajaan ini berusaha mencari tempat yang baru di wilayah hulu sungai. Orang-orang kerajaan ini menyusuri Sungai Kampar ke arah hulu hingga mencapai wilayah di mana kelurahan ini berada sekarang. Namun mereka tidak langsung memutuskan untuk menempati tempat ini, meskipun cocok dengan kebutuhan mereka. Tempat yang mereka cari kala itu adalah sebuah tempat dimana terdapat 2 buah anak sungai saling berhadapan. Nama kedua sungai itu adalah Sungai Rasau [sekarang disebut Sungai Hulu Bandar] dan Sungai Selempaya. Mereka hanya menandai tempat ini atau dalam bahasa setempat disebut “lalau”.

Mereka berperahu terus ke arah hulu hingga pada satu tempat rombongan kerajaan ini masuk ke sebuah anak sungai. Namun ternyata, mereka terpaksa tidak mampu melanjutkan perjalanan karena terhalang oleh sebuah batang besar yang melintang di tengah sungai. Batang ini berusaha mereka potong dengan parang. Anehnya batang ini ternyata mengeluarkan cairan seperti darah yang berwarna kehitaman. Ternyata batang tersebut adalah seekor ular besar. Tempat ini kemudian diberi nama Sungai Nilo, karena warna darah kehitaman yang mengucur terkesan seperti nila (racun).

Akhirnya rombongan Kerajaan Kampar tersebut lalu memutuskan untuk membangun istana kerajaan di atas Sungai Rasau. Istana ini disebut dengan “istana terapung”.

Pada suatu masa, Kerajaan Kampar di Sungai Rasau ini kemudian pindah termpat lagi ke hilir dan akhirnya menempati tempat yang sebelumnya telah dilalau. Tempat ini kemudian disebut dengan Pelalauan yang pada akhirnya berubah menjadi Pelalawan. Kerajaan Kampar kemudian bertahan beberapa waktu dan kemudian juga disebut Kerajaan Pelalawan. Istana raja di tempat ini disebut dengan “istana sayap”. Selama berada di tempat ini istana sayap pernah dipindahkan ke tempat lain di sekitarnya. Istana baru lagi ini disebut dengan “istana limas”. Namun akhirnya lokasi istana lalu kembali lagi ke tepian sungai yang sebelumnya telah pernah ada, yaitu istana sayap.

Pada sore hari, para aktivis River Defender berkesempatan untuk mengunjungi beberapa tempat yang terkait dengan kerajaan ini. Ternyata di sini banyak sekali dijumpai peninggalan-peninggalan bersejarah yang dijadikan cagar budaya. Diantaranya adalah makam jauh di tepian Sungai Rasau, makam dekat di tengah ibukota kelurahan, meriam Kerajaan Pelalawan, dan Istana Sayap. Makam jauh dan makam dekat adalah pemakaman keluarga raja yang pernah berkuasa di kerajaan ini.

Para aktivis sempat terkejut melihat situasi makam jauh. Jalan menuju tempat tersebut telah ditutupi oleh rumput dan semak belukar. Bangunan pelindung makam telah lapuk digerogoti usia. Sementara itu lantai terasnya pun sudah retak. Sayang sekali makam raja-raja di tepian Sungai Rasau nyaris tidak terawat dengan baik. Tampaknya dibutuhkan adanya perhatian khusus untuk merawat dan melestarikan cagar budaya penting ini.

Berbeda dengan makam tersebut, Istana Sayap kondisinya sangat baik. Istana Sayap sangat megah dan menggambarkan kejayaan kerajaan ini. Sekalipun sebelumnya telah rubuh, istana ini kemudian direkonstruksi ulang pada tahun 2003. Rekonstruksi istana ini didasarkan atas informasi sejarah yang didapatkan dari Negeri Belanda. Kabarnya biaya rekonstruksi ini sangat mahal, hingga mencapai lebih dari 10 milyar rupiah. Seorang penjaga istana mengatakan bahwa biaya pembangunan ulang ini didukung oleh sebuah pabrik kertas terbesar se-Indonesia.

Selain informasi mengenai sejarah kerajaan, para aktivis River Defender juga mendapat cerita menarik lainnya. Sebagai ibukota kerajaan, Pelalawan adalah sebuah ibukota. Masyarakatnya hidup makmur dan tak kekurangan pangan dari kelimpahan ikan sungai dan rawa serta beras yang dihasilkan dari ladang-ladang pasang surut. Sistem perladangan ini dilakukan berpindah-pindah di hamparan tanah subur tepian Sungai Kampar yang dipengaruhi pasang-surut air. Kehidupan perladangan mereka telah nyaris hilang sama sekali. Kini daerah perladangan mereka di tepian Sungai Kampar telah berubah menjadi kebun-kebun karet. Kini warga Pelalawan sepenuhnya tergantung dari beras yang harus dibeli dari luar wilayah.

“Di sini sudah tidak ada ladang lagi. Satu-satunya lokasi perladangan yang tersisa hanya tinggal sepenggal tanah sempit di dekat pasar,” ungkap Edi Hanafi pada para aktivis. Ungkapan ini seakan dibenarkan dengan informasi yang didapatkan dalam data monografi desa di Kantor Kelurahan Pelalawan. Dari data tersebut penggunaan lahan tanaman pangan sangat sedikit dibanding lahan untuk tanaman perkebunan karet dan kelapa sawit.

0 comments:

Posting Komentar